Panduan Belanja Hemat – Ekonomi dan Bisnis – koran.tempo.co

Masalah keuangan pernah dialami Oka Simanjuntak ketika membangun usaha. Bisnis yang dibangun gagal total. Modal menguap tak berbekas. “Sudah kehabisan uang, saya tak punya pekerjaan pula,” ujar dia kepada Tempo, kemarin.

Padahal, sebelum menjajal usaha, Oka pernah punya jabatan mentereng dan bergengsi. Dia berprofesi sebagai trade and investment commissioner untuk pemerintah Indonesia. Oka sering menangani transaksi bisnis bernilai triliunan rupiah dengan Negara Bagian Queensland, Australia. Bisa dikatakan pekerjaannya sudah selevel duta besar yang menangani perdagangan internasional. Penghasilan dari pekerjaannya lebih dari cukup.

Berbekal pengalaman mengelola transaksi bisnis global, Oka percaya diri terjun membangun usaha. Tapi nasib berkata lain. Membangun bisnis tidak semudah menjadi penghubung usaha dua negara. Butuh pengalaman dan modal yang kuat selain keuletan.

Bisnisnya gagal total. Modal ambles dan penghasilan seret. Untuk bertahan, Oka bersama istrinya melakukan penghematan besar-besaran. Gaya hidup glamor ditinggalkan. Untuk belanja kebutuhan harian, Oka sering membandingkan semua harga barang sejenis di tempat berbeda. Tujuannya, untuk mendapatkan harga paling murah.

Oka rajin menyisir harga barang dari satu tempat ke tempat lain, dari satu gerai ke gerai yang lain. Bahkan Oka juga masuk dalam grup WhatsApp ibu rumah tangga. Di grup itu dia mengenal seorang ibu yang kerap berbagi info belanja dan sering mengunggah foto struk belanja.

Shooper, aplikasi perbandingan harga antara sejumlah toko. Tempo/Nurdiansah

Pengguna memoret struk belanja dengan aplikasi Shooper. Tempo/Nurdiansah

Dari percakapan di media sosial itu, timbul gagasan untuk memandu konsumen guna mendapatkan harga paling murah. Menurut Oka, harga barang belum tentu sama di minimarket atau supermarket dengan brand yang sama. “Nah, mana yang paling murah? Di sini ide membuat Shooper muncul,” ujar dia.

Sambil mematangkan rencana, Oka menggenjot kemampuan teknologinya dan berhasil memperoleh beasiswa program pascasarjana Digital Business di MIT Sloan dan Columbia University, Amerika Serikat. Ide awal Shooper dikonsultasikan dengan beberapa profesor tersohor di MIT Sloan dalam mengembangkan konsep komunitas informasi dan alur bisnis aplikasi.

Oka kemudian menggandeng rekan-rekan yang satu visi. Mereka adalah Albert Agung, pendiri perusahaan web design; Meilisa Sanjaya, designer lulusan Nanyang Institute of Fine Art Singapura; dan Erlangga Guntoro, peraih gelar master keuangan dari Inggris. Oka bersama ketiga kawannya menggali data 60 juta rumah tangga di seluruh Indonesia dan mendapati bahwa pengeluaran keluarga adalah keperluan sehari-hari. “Alias grocery. Kategori ini mencakup 40-48 persen seluruh pengeluaran rumah tangga Indonesia,” ujar dia.

Shooper dibentuk untuk membantu penghematan dengan metode crowd sourcing, yaitu pengumpulan informasi melalui unggahan struk belanja dan sumber lain di komunitas daring. Layaknya Facebook, Shooper mengandalkan skema partisipasi pengguna atau network effect. Semakin banyak pengunggah, semakin besar manfaat dan basis datanya.

Dari kumpulan data itu, Shooper menyusun, menganalisis, dan menyajikan data hasil ke pengguna. Tiga fitur andalannya antara lain ShooperSave untuk memberi perbandingan harga dan mencari lokasi belanja termurah di gerai terdekat. Kemudian, ShooperTrack untuk memberikan laporan belanja agar pengguna bisa mengatur keuangan masing-masing. “Terakhir ShooperPoints untuk memberikan universal point-rewards dari lokasi belanja,” kata Oka. “Poin dapat ditukarkan dengan berbagai macam produk.”

Pengembangan Shooper bukan tanpa hadangan. Menurut Oka, tak mudah menyerap dan mengembangkan sumber daya di tengah persaingan ketat bisnis rintisan. Iklim kebijakan di Tanah Air belum ramah terhadap bisnis rintisan teknologi. “Banyak peraturan masih terlalu kaku dan penuh birokrasi,” tutur dia. “Hal ini kadang menghambat kami dalam berkarya.”

Dalam jangka pendek, Shooper akan memperluas komunitas dengan fitur yang ada, termasuk ShooperChef yang masih dalam pengembangan. Pengguna bisa berbagi resep masakan dengan fitur baru. Shooper, kata Oka, juga akan menganalisis dan mencari opsi lokasi belanja termurah untuk.

Untuk jangka panjang, kata Oka, Shooper akan menyediakan fitur baru untuk rumah tangga, seperti jasa keuangan berupa pinjaman, asuransi, dan pembayaran.



Profil Start-Up Shooper

Nama: PT Savaron Indo Aplikasi

Berdiri: 28 November 2019

Sektor: Jasa informasi bidang jual-beli

Pendiri:

– Oka Simanjuntak (CEO, Founder)

– Albert Agung Arditya (CTO, Co-founder)

– Erlangga Guntoro (CFO, Co-founder)

– Meilisa Sanjaya (CPO, Co-founder)

Sumber pendanaan: masih bootstrap pendiri dan beberapa angel investor. Saat ini masih pre-seed stage.

Alamat kantor: Menara Batavia Lt 2, CECT Trisakti, Jl. KH. Mas Mansyur Kav. 126, Karet Tengsin, Jakarta Pusat

 

YOHANES PASKALIS

 

 

 

Paul Taka

Paul Taka