Jual Beli Online dalam Perspektif Islam – MedanBisnisDaily.com

Rabu, 16 Mar 2016 07:26 WIB  •  Dibaca: 10,031 kali  •  https://mdn.biz.id/n/222263/

KEGIATAN berbisnis merupakan salah satu aktivitas yang sangat dianjurkan
dalam ajaran agama Islam. Bahkan Rasulullah Saw mengatakan dalam
hadisnya bahwa sembilan dari sepuluh pintu rezeki yaitu melalui pintu
perdagangan. Hal ini menunjukkan melalui jalan perdagangan pintu-pintu
rezeki akan dapat dibuka sehingga karunia Allah terpancar daripadanya.

Kegiatan jual beli merupakan kegiatan yang diperbolehkan dalam Islam, asalkan dalam kegiatan jual beli dilakukan secara benar dan sesuai dengan ajaran Islam. Karena itulah dalam ajaran Islam berjual beli diberikan batasan-batasan mana yang boleh dilakukan dan manapula yang tidak boleh dilakukan.

Semakin pesatnya perkembangan teknologi tentunya mempermudah khususnya dalam bertransaksi jarak jauh, di mana orang dapat berinteraksi dalam waktu singkat walaupun tanp face to face. Pada zaman sekarang masyarakat dihebohkan dengan praktek jual beli online yang dalam praktiknya merupakan aktivitas jual beli berupa penawaran barang oleh penjual dan permintaan barang dari pembeli secara online dengan memanfaatkan teknologi internet. Karena itu, bisa diketahui karakteristik jual beli online yaitu terjadinya transaksi antara dua belah pihak, adanya pertukaran barang, jasa atau informasi dan internet merupakan media utama dalam proses atau mekanisme akad.

Dari beberapa karakteristik jual beli online tersebut bisa dilihat bahwa yang membedakan jual beli online dengan jual beli offline pada proses transaksi (akad) dan media utama dalam proses tersebut. Akad merupakan unsur penting dalam suatu bisnis. Secara umum, bisnis dalam Islam menjelaskan adanya transaksi yang bersifat fisik dengan menghadirkan benda yang diperdagangkan ketika transaksi atau tanpa menghadirkan benda yang dipesan tetapi dengan ketentuan harus dinyatakan sifat benda secara konkret, baik diserahkan langsung atau diserahkan kemudian sampai batas waktu tertentu, seperti dalam transaksi as-salam dan transaksi al-istishna.

Transaksi as-salam merupakan bentuk transaksi dengan sistem pembayaran secara tunai/disegerakan tetapi penyerahan barang ditangguhkan. Sedang transaksi al-istishna merupakan bentuk transaksi dengan sistem pembayaran secara disegerakan atau secara ditangguhkan sesuai kesepakatan dan penyerahan barang yang ditangguhkan.

Karena itu, jual beli online sebenarnya hampir sama bentuknya dengan jual beli transaksi as-salam dan al-istishna, yaitu bentuk transaksi dengan sistem pembayaran secara tunai/disegerakan tetapi penyerahan barang ditangguhkan. Atau sebaliknya pembayaran ditangguhkan tetapi penyerahan barang disegerakan atau dapat pula dilakukan sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Karena itu, dalam bertransaksi atau jual beli online diperbolehkan selama: Pertama, produk yang dijual halal dan baik barangnya. Artinya, produk perniagaan harus barang yang halal karena Islam mengharamkan hasil perniagaan barang atau layanan jasa yang haram, sebagaimana ditegaskan dalam hadis: “Sesungguhnya bila Allah telah mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, pasti Ia mengharamkan pula hasil penjualannya” (HR. Ahmad).

Kedua, kesesuaian harga dengan kualitas barang. Artinya, dalam jual beli online kerap kali dijumpai banyak pembeli merasa kecewa setelah menerima barang yang telah dibeli secara online, entah itu kualitas atau ukurannya yang ternyata tidak pas dengan badan. Karena itu, sebelum hal ini terjadi penjual harus menyesuaikan antara harga dengan kualitas barang yang ditawarkan. Sebaiknya ketika menjual barang secara online dilampirkan foto riil keadaan barang yang akan dijual tersebut.

Ketiga, jujur antara penjual dan pembeli. Artinya, setiap perniagaan ditekankan untuk dilakukan secara jujur baik itu dalam jual beli online maupun offline. Walaupun jual beli online dianggap sebagian masyarakat sebagai jual beli yang memiliki banyak kemudaan dan keunggulan, namun bukan berarti tanpa masalah. Berbagai masalah bisa saja muncul pada perniagaan secara online, terutama yang berkaitan dengan tingkat amanah kedua belah pihak.

Dalam jual beli online bisa saja orang melakukan pembelian atau pemesanan, namun setelah barang dikirim kepadanya ia tidak melakukan pembayaran atau tidak melunasi sisa pembayarannya. Demikian pula bila Anda sebagai pembeli, bisa jadi setelah Anda melakukan pembayaran atau paling kurang mengirim uang muka, ternyata penjual berkhianat dan tidak mengirimkan barang. Bisa jadi barang yang dikirim ternyata tidak sesuai dengan gambar yang ada pada situs atau tidak sesuai dengan yang Anda pesan. Biasa dibayangkan betapa repotnya bila mengalami kejadian seperti itu. Karenanya, walaupun kejujuran ditekankan dalam setiap perniagaan, pada perniagan secara online tentu lebih ditekankan lagi.

Keempat, status (biodata) penjual dan pembeli harus jelas. Artinya, apabila Anda ingin melakukan jual beli secara online hendaknya Anda mengetahui dengan jelas status pembeli barang yang ditawarkan atau status penjual yang barangnya akan Anda beli. Hal ini dapat mengurangi tindakan penipuan yang mungkin terjadi. Kenali dan pelajarilah berbagai kiat aman menjalankan perniagaan atau membuka toko online.

Jual beli online pada prinsipnya sama seperti jual beli offline. Namun yang membedakanya adalah proses transaksi (akad) dan media utama dalam proses tersebut. Dalam jual beli baik online maupun offline ada yang halal ada yang haram, ada yang legal ada pula yang ilegal. Hukum asal mu’amalah adalah al-ibaahah (boleh) selama tidak ada dalil yang melarangnya. Karena itu, hukum dasar jual beli online sama seperti akad jual beli dan akad as-salam, yaitu diperbolehkan dalam Islam. Namun, bukan berarti tidak ada rambu-rambu yang mengaturnya. Jual beli online diperbolehkan selama tidak mengandung unsur-unsur yang dapat merusaknya seperti riba, kezaliman, penipuan, kecurangan dan sejenisnya serta dalam pelaksanaannya memenuhi rukun-rukun dan syarat-syarat jual beli. Karena itu, ketika kita melakukan jual beli online tentunya banyak sekali godaan dan tantangan bagaimana kita harus berbisnis sesuai koridor Islam. Maka dari itu kita harus lebih berhati-hati. Jangan sampai karena ingin mendapat keuntungan semata lalu menghalalkan segala macam cara. Selama kita berbisnis sesuai prinsip-prinsip ajaran Islam, Insya Allah harta yang didapatkan akan menjadi berkah.

(Oleh: Hasrian Rudi Setiawan MPdI) Penulis dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Paul Taka

Paul Taka